INDRAMAYU, (Fokuspantura.com),- Lebaran Idul Fitri yang biasa diramaikan dengan pemudik menuju kampung halaman dimanfaatkan warga di sepanjang jalur arteri pantura untuk menyediakan jajanan sederhana bagai para pemudik.
Seperti halnya di ruas jalan Pantura Indramayu, sejumlah warga yang berada di sepanjang pesisir utara Bumi Wiralodra ini mulai mendirikan warung musiman atau warung dadakan (wardak) di sepanjang bahu jalan yang menjadi lintasan utama pemudik. Dan kali ini pada H-9 menjelang arus mudik lebaran 2025, wardak-wardak mulai didirikan.
Pantauan fokuspantura.com, sepanjang jalur arteri Pantura Kecamatan Sukra, Patrol, Kandanghaur, dan Losarang, sudah bermunculan kerangka dari bambu dan terpal yang dibuat oleh warga untuk mendirikan Wardak.
Biasanya para pedagang musiman ini menjajakan aneka jajanan seperti minuman segar, makanan siap saji, kopi. mie instan, lontong. Selain itu pula menyediahkan tempat peristirahatan bagi para pemudik.
Seperti halnya di jalur Desa Jumbleng Kecamatan Losarang Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, salah satu warga, Yanto, mulai mendirikan warung dadakan yang terbuat dari bambu dan trepal, dengan menelan biaya ratusan ribu.
“Habis tiga puluh batang bambu sekitar dengan biaya kisaran dua ratusan ribu, warung kami ini terbuat dari bambu dan terpal, biasanya digunakan untuk jualan kopi, pop mie, lontong, dan jajanan siap saji lainnya, mulai jualan rame biasanya minus lima pa,” ujar Yanto, kepada fokuspantura.com, Jumat, 21 Maret 2025
Senada dikatakan, Warto, bersama kelurganya mendirikan kerangka terbuat dari bambu dan terpal. Tiap tahun ketika menjelang lebaran rutin menjajakan dagangan untuk meraup keuntungan yang nantinya bisa buat fitrah, makan sehari-hari dan baju lebaran buat anak-anak.
“Jualan kopi pop mie aqua. Biasanya dapet 200 ribu per hari kalau rameh bisa lebih. Mudah-mudahan tahun ini rameh biar bisa buat makan, beli buat fitrah, dan baju lebaran anak,” ujarnya
Selain itu, menurut Warto, untuk mendapatkan keuntungan, ia pun memberikan fasilitas tempat istirahat para pemudik yang tengah melaju dari arah ibu kota. Dan puncak keramaian biasanya pada H-3 menjelan lebaran.
“Kalau saya biaya bikin warung habis sekitar Rp 300 ribuan pak, kalau penghasilan tergantung rameh apa engganya pembeli yang beristirahat dan rameh biasanya di H-3 🐧 an,” imbuhnya.